Category: Berita Sekolah

  • SAMAPTA

    SAMAPTA

    SAMAPTA; PROGRAM UNGGULAN SMAHATMA

    SMA Hang Tuah 5 Sidoarjo melaksanakan tes kesehatan fisik bagi calon TNI/POLRI dan Kedinasan sebelum pelaksanaan atau seleksi masuk di instansi tersebut. Pihak sekolah secara antusias dan rutin mengadakan kegiatan tersebut. Selain melaksanakan tes kesehatan fisik bagi calon TNI/POLRI dan Kedinasan, para siswa sebagai calon taruna dibekali juga dengan Kesamaptaan Jasmani yang rutin diagendakan setiap Jumat dan Sabtu, bertempat di Lapangan GOR Sidoarjo dan SMA Hang Tuah 5 Sidoarjo yang dilatih langsung oleh Konsultan Pendidikan YHT, Sjemihadi Hardjo, M.M. dan dibantu pendidik PJOK SMA Hang Tuah 5 Sidoarjo. Test kesehatan fisik dan samapta dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan Covid 19, serta cek suhu tubuh kepada seluruh peserta.

                Selain itu Tes Kesehatan Fisik dan Samapta ini juga merupakan salah satu syarat wajib dalam seleksi masuk bagi calon TNI/POLRI dan Kedinasan. Diharapkan selain melalui test samapta, seluruh siswa memiliki kesadaran dalam menjaga kondisi kebugarannya dengan melaksanakan olahraga secara rutin pada jam olahraga yang telah ditentukan.

                Seluruh siswa melaksanakan tes kesehatan fisik meliputi, penentuan fisik dasar (tinggi dan berat badan), tensi, kesehatan mata, THT, varises, dan tes urine. Sedangkan pada kesamaptaan beberapa  tes diantaranya  berupa lari pull up, sit up, push up dan shuttle run.(Mas dan B)

  • RELIGIOUS TOUR IN “WALIYULLAH” 2021

    RELIGIOUS TOUR IN “WALIYULLAH” 2021

    RELIGIOUS TOUR IN “WALIYULLAH” 2021

    Hampir setahun pandemi virus Covid-19 melanda Indonesia. Hal tersebut membuat sebagian besar rakyat Indonesia, merasa bosan sekali berada di rumah. Oleh sebab itu, ingin sekali mengaktualkan diri kembali di tengah-tengah masyarakat, dengan kegiatan bermanfaat tapi menyenangkan. Oleh karena itulah, sebaiknya keinginan tersebut dilakukan dengan kegiatan-kegiatan positif. Seperti mempertebal nilai-nilai spiritual, yang sebelumnya bisa saja ada yang menurun akibat selalu sering berada di rumah.

                Bukan hanya mempertebal nilai-nilai spiritual, demi pelaksanaan UTBK/SBMPTN 2021, tes masuk TNI/POLRI dan Kedinasan 2021 yang berjalan lancar dan kesuksesan PPDB sekolah tahun 2021-2022. SMA Hang Tuah 5 Sidoarjo melaksanakan kegiatan keagamaan berupa membaca surah Yasin, membaca doa Tahlil, Istigasah, dan doa khusus untuk keberkahan dalam serangkaian perjalanan religi ke beberapa Wali Allah.

                Kegiatan yang berjalan lancar dan kondusif ini dilaksanakan selama tiga kali berturut-turut guna mengurangi massa di tengah pandemi saat ini. Kegiatan ziarah Waliyullah pertama dimulai pada Sabtu, 13 Maret  2021 dengan rute KH. Ali Mas’ud, Sunan Ampel, Syekh Maulana Ishaq, Sunan Drajad, dan Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi. Kemudian berbeda di kegiatan ziarah Waliyullah kedua pada Sabtu, 20 Maret  2021 dengan rute KH. Ali Mas’ud, Sayyid Sulaiman Basyaiban, Syekh Jumadil Qubro, KH. Abdul Wahab Chasbullah, dan KH. Chamin Jazuli atau Gus Miek. Terakhir di kegiatan ziarah Waliyullah selanjutnya pada Sabtu, 27 Maret  2021 dengan rute KH. Ali Mas’ud, Syarifah Khodijah, KH. Abdul Hamid, Sayyid Arif Segoropuro, dan Sayyid Sholeh Semendi. Semua pemberangkatan ziarah Waliyullah pada pukul 05.30 WIB dan kembali ke sekolah sekitar pukul 20.00 WIB. Ziarah Waliyullah ini hanya diikuti panitia penyelenggara kegiatan wisata religi yaitu Bapak/Ibu Pendidik dan Tenaga Kependidikan SMA Hang Tuah 5 Sidoarjo. 

                Manfaat kegiatan ziarah wali ini selain mendekatkan diri kepada Allah, juga dapat mengenal lebih tentang Waliyullah, mengingat bahwa semua makhluk yang diciptakan akan kembali kepada Allah, dan berdoa untuk kesuksesan UTBK/SBMPTN dan PPDB SMA Hang Tuah 5 Sidoarjo.             “Semoga keberkahan tidak hanya didapat oleh seluruh siswa dan guru yang ikut serta dalam kegiatan, namun semua warga sekolah dan untuk SMA Hang Tuah 5 Sidoarjo, serta meningkatkan keimanan untuk semuanya.” Ujar bu Hida. (Riako)

  • SIAP TEMPUR DI UTBK MELALUI MOTIVASI DAN BIMBINGAN

    SIAP TEMPUR DI UTBK MELALUI MOTIVASI DAN BIMBINGAN

    SIAP TEMPUR DI UTBK MELALUI MOTIVASI DAN BIMBINGAN

    Di tengah masa pandemi, eksistensi Bimbingan Belajar (Bimbel) dengan tujuan untuk membantu pelajar mempelajari materi dan lulus tes masuk Perguruan Tinggi (PT) masih bertahan hingga sekarang.

                Meraih karier masa depan, dibutuhkan usaha yang maksimal untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Hal ini dilakukan peserta didik kelas XII yang mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2021. Mereka mengikuti bimbingan belajar sebagai persiapan utama menjelang Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

    Motivasi dan Bimbingan Belajar Persiapan UTBK dan Tes Sekolah Kedinasan

                Mulai Senin 31 Maret 2021 sampai nanti menjelang pelaksanaan tes, siswa yang mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) melaksanakan bimbingan dan pembekalan materi. Kegiatan tersebut bertempat di 3 ruang kelas yang berbeda.

    “Materi yang diberikan saat bimbingan yaitu TPA, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, serta Kimia dan Fisika. Untuk teknis waktu pembimbingan dan tempat, siswa langsung berkoordinasi dengan guru atau tutornya,” ucap Maskur, S.Pd.

                Tujuan diadakannya bimbingan ini agar peserta didik bisa memahami materi, lebih siap, serta terbekali untuk Tes Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

    “Saya berharap semua siswa yang melaksanakan SBMPTN, mendapatkan hasil yang terbaik sesuai yang diinginkan. Semoga sukses dan semangat untuk menghadapi UTBK SBMPTN,” imbuh Maskur sambil memberikan semangat kepada peserta didiknya.

                Senada dengan Maskur, pun pendidik lain, Maya Puspitasari, S.Pd menegaskan juga “Layanan ini diharapkan akan membantu para siswa mengenali bakat dan kemampuan mereka masing-masing sehingga dapat mempersiapkan diri lebih matang dalam persiapan menghadapi UTBK,” pungkas Maya. (B)

  • BRAVO PEJUANG PAGEANT 2020 SMAHATMA

    BRAVO PEJUANG PAGEANT 2020 SMAHATMA

    BRAVO PEJUANG PAGEANT 2020 SMAHATMA (1)

    Hello SPLITERS, sekarang kita mau ulas tentang beberapa siswa dari sekolah kita tertjintehhh. Mereka adalah beberapa pemenang dari ajang pageants baik yang laki-laki maupun perempuan di Kabupaten Sidoarjo lhooo…

    Guk Yuk dan DANS merupakan sebutan untuk ajang pageants remaja bagi pemuda dan pemudi yang ingin mencari pengalaman. Prestasi yang ditorehkan oleh siswa SMAHATMA tidak terbatas hanya dengan memperoleh piala dari suatu ajang lomba atau olimpiade. Mereka yang dapat lolos dan bergabung menjadi anggota suatu organisasi atau bisa disebut paguyuban di wilayah Sidoarjo juga bisa dibilang sebagai prestasi. Seperti taruna SMAHATMA yang mampu bergabung menjadi anggota Guk Yuk. Orang tersebut tidak lain adalah Hanz Probo dari kelas XI MIPA 4 yang berhasil tergabung dalam paguyuban tersebut.

    Duta wisata Indonesia adalah remaja berusia 16 hingga 26 tahun pemenang pemilihan duta wisata yang diikuti oleh para peserta dari 33 provinsi di Indonesia. Selain memiliki fisik dan penampilan, Guk dan Yuk harus memiliki kecerdasan intelektual. Guk Yuk sendiri merupakan paguyuban yang dibuat untuk membantu pemerintah dalam mempromosikan potensi objek dan daya tarik wisata khususnya yang ada di Sidoarjo.

    Sebelum lolos menjadi anggota Guk Yuk ini, mereka melewati 2 tahap seleksi. Tahap pertama  dilaksanakan secara virtual atau daring dan tahap kedua dilaksanakan di Pendopo Dispora. Dan untuk grand final dilaksanakan dengan menentukan hasil vote terbanyak, Sidoarjo. Seleksi ini memakan waktu yang cukup lama. Lebih kurangnya 42 hari. Dimulai pada tanggal 17 Oktober hingga 30 November 2020. “menurut saya, seleksi yang lumayan sulit adalah wawancara pada seleksi tahap kedua, karena kita harus percaya diri dalam berbicara juga harus bisa menunjukkan bahwa kita ini benar-benar bisa berkontribusi dengan parpas”, ungkap Hanz.

    Mereka yang sudah tergabung dalam paguyuban ini diharapkan agar dapat membantu pemerintah dalam pengenalan potensi objek dan daya tarik wisata yang ada di Sidoarjo. (Riako)

    BRAVO PEJUANG PAGEANT 2020 SMAHATMA (2)

    Hello SPLITERS, kalian pasti tahu, kan, apa itu narkoba dan bahaya yang ditimbulkannya? Tentu saja, sebagai warga SMAHATMA yang sehat, kita harus mejauhi obat-obatan terlarang yang satu ini. Di masa modern saat ini, penyebaran narkoba sangatlah mudah. Penggunanya pun tidak sebatas orang tua saja, namun banyak juga kalangan remaja yang mulai berani mencicipi barang haram ini. dalam upayanya, pemerintah kabupaten Sidoarjo membentuk suatu organisasi yang mana menampung informasi seputar perkembangan narkoba, bahaya narkoba, dan upaya memberantas narkoba.

              Organisasi yang dimaksud yaitu Duta Anti Narkoba. Organisasi ini langsung dinaungi oleh BNNK kabupaten Sidoarjo. Nantinya para anggota Duta Anti Narkoba akan memberikan penyuluhan dan sosialisasi pada sekolah-sekolah, maupun di  sosial media untuk mengetahui informasi akurat tentang narkoba. Duta Anti Narkoba ini juga sebagai perkumpulan muda yang menjadi garda terdepan untuk memberantas narkoba sebagai generasi muda yang bisa merangkul dan menasehati teman-teman yang memakai hingga pengedar narkoba, bukan mengintimidasinya.

    Eitss, untuk menjadi bagian dari Duta Anti Narkoba ini tidaklah mudah, loh! Kita perlu melewati berbagai seleksi yang ada. Dan bangganya, empat siswa dari sekolah kita berhasil tergabung menjadi anggota dari organisasi ini. Yaitu, Vincent Martin (X MIPA 3), Pramudya Ananta N (XI IPS 2), Kezia Putri Jessia (XI IPS 2), dan Akhmad Fardan J (XI MIPA 2). Mereka bersusah payah melewati berbagai tahapan seleksi yang ada demi menjadi bagian dari organisasi ini.

    Bangganya SMA Hang Tuah 5 menorehkan prestasi kepada Pramudya Ananta N menjadi Wakil 1 DANS dan Vincent Martin memperoleh duta favorit DANS 2020.

              Kesulitan saat menjalani seleksi terbayar sudah dengan kesan saat sudah menjadi anggota organisasi ini. Banyak pengalaman yang diperoleh dengan mengikuti  organisasi ini. Mereka berpesan agar kita menjauhi narkoba. Karena narkoba tak hanya menyerang  orang tua, namun juga menyerang para remaja. Dan semoga tidak disalahgunakan.

              Semoga ke depannya Duta Anti Narkoba ini dapat membantu mengurangi masalah-masalah yang ditimbulkan dari penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

    (Riako)

  • KELOMPEN CAPIR?

    KELOMPEN CAPIR?

    KELOMPEN CAPIR?

    Haiii hai sobat Spliters,, Bagaimana kabar kalian? Semoga selalu baik-baik saja ya serta selalu dalam lindungan-Nya, Aaammiiinn…

              Ada kabar baik nih,, Sekolah kita mendapatkan Juara lagi. Nggak habis-habisnya sekolah kita selalu kebanjiran juara dalam bidang akademik maupun non akademik. Kali ini SMA Hang Tuah telah memenangkan Juara 1 Lomba Kelompen Capir Tingkat SMA/SMK Se-Kabupaten Sidoarjo dalam rangka mempringati hari AIDS Sedumia Tahun 2020. Kalian tau tidak Kelompen Capir itu apa?, kita jelasin dulu ya supaya tau, yang sudah tau supaya lebih tau. Kelompen capir merupakan kepanjangan dari Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa HIV/AIDS dan Narkoba, acara tersebut diadakan dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia. Acara ini kaloborasi dari Parpas, KPA Sidoarjo, Dinas Kesehatan, dan Dinas Kesehatan. Perwakilan dari SMA Hang Tuah 5 yang mengikuti kompetisi ini merupakan taruna-taruni dari perwakilan kelas XII, antara lain ; Mochammad Habibie Purnomo (XII MIPA 2), Agustia Rahma Gita Dwi Cahyani (XII MIPA 3), dan Hafifah Aprilia Indrianingrum (XII MIPA 4) mereka-mereka merupakan siswa terpilih untuk mengikuti kompetisi ini.

              Kompetisi yang diujikan meiliputi :

    -Olimpiade Hiv Aids dan narkoba (12 November 2020)

    -Debat Seputar Hiv aids dan narkoba (16 November 2020)

    -Cerdas cermat seputar hiv aids dan narkoba (1 Desember 2020)

    -Drama panggung tentang hiv aids dan narkoba (1 Desember 2020)

    Materi yang diujikan  seputar tentang HIV/AIDS dan Narkoba. Sebagai perwakilan dari sekolah tentunya mereka juga mempersiapkan betul-betul untuk bisa lolos sampai ke babak grand final, bahkan mereka juga sampai meninggalkan Penilaian Akhir Semester 1 dan melaksanakan Penilaian susulan. Ternyata dibalik kesuksesan mereka juga ada hal yang harus dikorbankan untuk bisa lolos ke grand final. “Selain mendapatkan ilmu baru, teman baru kita juga mendapatkan pelajaran untuk mempunyai rasa tanggung jawab yang penuh karena membawa nama sekolah di kalangan masyarakat, dan pastinya ilmu seputar HIV/AIDS dan Narkoba, juga menggali bakat serta pengalaman yang baru contohnya public speaking. Karena tidak semua orang mempunyai rasa percaya diri untuk berbicara di muka umum” tutur mereka. Wow keren banget kan sobat split walaupun di masa pandemi ini mereka tetap produktif untuk menyalurkan bakat mereka serta menggali. Walaupun mereka mendapatkan Juara tetapi mereka tetap rendah hati.

    Pesan dan kesan singkat yang ditujukan untuk pembaca “Kelompen capir merupakan lomba pertama kali yang kita ikuti  di bidang olimpiade cerdas cermat dan drama. Yang menuntut kita untuk belajar dan bertanya pada teman yang berpengalaman. Kami turut bahagia karena bisa mewakili sekolah untuk mengikuti kompetisi ini walaupun di masa pandemi yang sulitnya untuk bertatap muka. Awalnya kita sempat ngerasa  ragu untuk melakukannya, karena selama kompetisi berlangsung rasanya gugup banget dan ngerasa banyak perwakilan dari sekolah lain  yang lebih berpengalaman dari kita. Tetapi Alhamdulillah usaha tim yang kita lakukan tidak sia sia. Menjadi juara 1 sudah sangat cukup dan membanggakan.  Maka dari itu pesan kita jangan takut untuk mencoba hal baru terus gali bakat mu jangan malu, jangan merasa tidak bisa coba dulu, dan jangan pantang menyerah.” tutur mereka.

    Jadi setelah bercerita panjang lebar bisa ditarik kesimpulan walaupun di masa pandemi kita masih bisa produktif untuk mengikuti kegiatan positif dan menggali potensi serta menyalurkan bakat. Sekian dari kita, semoga kita bisa bertemu lagi di edisi yang akan datang. Terima kasih sudah membaca berita ini, semangat terus ya jangan menyerah hehehe. (RLF)

  • KARTINI MASA KINI

    KARTINI MASA KINI

    KARTINI MASA KINI

    Haii sobat spliters,,,,

    BAGAIMANA KABAR KALIAN? SYUKURLLAH kalau dalam keadaan sehat… Terima kasih telah menunggu kita, karena masih  banyak berita yang ingin dibaca oleh kalian… hehehe

    Kali ini kita akan bagikan pengalaman siswa berprestasi, kenalan dulu yuk namanya  Hafifah Aprilia Indrianingrum siswi yang berkelahiran di kota pahlawan lebih tepatnya kota Surabaya pada tanggal 13 April 2004, dia merupakan siswi kelas 12 MIPA 4 yang memiliki segudang prestasi baik di dalam lingkungan sekolah maupun diluar sekolah yang akan kita bahas. Prestasi yang sudah ia pernah capai, sebagai berikut :

    1. Peringkat 1 pararel jurusan MIPA kelas 10 Semester 1 dan Semester 2
    2. Juara 1 lomba Karya Tulis Ilmiah Bidang Kelautan Tingkat SMA/SMK/MA sederajat (Tim)
    3. Juara 1 OS2HT cabang surabaya Tingkat SMA/SMK/MA sederajat  (Tim)
    4. Best Mapel Biologi OS2HT
    5. Juara 1 Lomba Cerdas Cermat Dharma Pertiwi lolos ke tingkat Nasional
    6. Lolos ke tingkat Provinsi Jawa Timur OSK Biologi Tingkat SMA/SMK/MA sederajat
    7. Juara 1 Lomba Kelompen Capir Tingkat SMA/SMK Se-Kabupaten Sidoarjo dalam rangka mempringati hari AIDS Sedumia Tahun 2020 (Tim)

    Wow keren abis nggak sihh Hafifah,, ia bisa memanfaatkan masa mudanya untuk hal positif dan bermanfaat bagi banyak orang selain itu ia juga sangat aktif dalam kegiatan Organisasi Palang Merah Remaja yang di bawah naungan SMA Hang Tuah 5, ia menjabat sebagai bendahara 1 di PMR. Meskipun ia memiliki segudang prestasi ia tidak pernah sekecilpun menyobongkan dirinya untuk terlihat hebat, ia selalu terlihat rendah hati dan tidak merasa terbebani untuk membagikan ilmu serta pengalaman yang ia dapatkan.

    Bagiamana Hafifah membagi waktu belajar supaya tidak ketinggalan pelajaran sekolahnya?  “Dijalani semengalirnya aja, terkadang mengikuti lomba itu sangat mengganggu ke waktu belajar, contohnya lebih sering ninggalin pelajaran waktu di sekolah. Kalau organisasi sendiri biasanya sepulang sekolah jadi tidak terlalu  mengganggu, cuman badan jadi lebih capek aja, terkadang  kalau pulangnya kemaleman biasanya sampai tidak mengerjakan tugas atau belajar, hehehe. Pokoknya pintar-pintar aja bagi waktu dan banyakin latihan di waktu luang”, ujar Hafifah. Kelihatannya tidak mudah ya splitters tapi kalian pasti bisa kok seperti Hafifah yang penting usaha dulu aja sama berdoa.

    Oh iya motivasi terbesar hafifah bisa di titik ini adalah “Ingin membuktikan kepada semua orang bahwa tidak selamanya masuk di sekolah swasta itu buruk, dan mengumpulkan pengalaman serta sertifikat untuk peluang bisa lolos PTN jalur unndangan semakin besar” kita aminkan bersama ya sobat supaya Hafifah bisa lolos ke PTN yang diinginkan serta jurusan pilihannya dan juga kalian semoga bisa raih cita-cita kalian, Aaammiiin.

    Momen yang berkesan yang dirasakan oleh Hafifah Hal yaitu “Nervous dan ngerasa jantung berdekup kencang sebelum menjelang dan selama kompetisi berlangsung. Aku sendiri selalu suka mikir bisa nggak ya ngejalaninya apalagi sering banget ninggal pelajaran setiap ada kompetisi, pernah aku seminggu nggak masuk kelas hehehe. Tetapi dibalik itu semua aku dapat teman baru dari sekolah yang berbeda. Pokoknya banyak banget pengalaman yang aku dapatkan, apalagi biasanya dapat konsumsi sama dapat uang, hehehe”. Sobat split setelah membaca pengalaman yang dirasakan oleh Hafifah, apa yang terlintas dari pikiran kalian? Kalau kita sendiri terpikirkan sosok R.A Kartini, karena menurut kita hafifah benar-benar membuktikan bahwa perempuan juga bisa berprestasi dan mempunyai hak untuk merasakan pendidikan yang setara dengan laki-laki.

    Pesan dari Hafifah untuk kalian semua “Tetap semangat ya untuk menjalani kehidupan sebagai pelajar yang baik, dan mencoba untuk kurangi pikiran yang negatif karena dapat menghambat cita-cita kalian”. Semoga bisa membuat kalian termotivasi untuk menjadi siswa berprestasi selanjutnya Aammiiin,,, Oleh karena itu kita akhiri ya semoga kita bertemu di edisi yang selanjutnya. Pesan singkat untuk kalian yang lagi berjuang untuk masa depan “Udah jalani dulu aja!!! tau-tau nanti udah selesai, pasti lega karena udah sampai dititik ini. Jangan terlalu dijadikan beban, yang terpenting kita sudah berusaha semampunya dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, nikmati proses yang kalian jalani untuk hari esok yang akan datang. Semangaattttt!!!” (RLF)

  • “PEREMPUAN SEGUDANG PRESTASI”

    “PEREMPUAN SEGUDANG PRESTASI”

    oleh Anisa

     SMA Hang Tuah 5 tidak habis-habisnya memiliki siswa yang berprestasi. Salah satunya adalah. Anisa Nur Fadilla  Berkelahiran di pulau Jawa tepatnya di daerah Sidoarjo pada tanggal 22 Januari 2004. Ia memiliki segudang prestasi baik akademis maupun non akademis. Prestasinya antara lain sebagai berikut :

    1. Juara 3 Iklan Layanan Masyarakat, YHT Nasional 2020. 
    2. Juara 1 Musabaqoh Syarhil Qur’an se Kabupaten Sidoarjo 2020.
    3. Juara 1 News anchor (UNESA) 2020.
    4. Juara Favorit Pidato (FPODS) 2020.

               Selain itu Anisa sendiri sangat aktif mengikuti kegiatan di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Ia sangat aktif dalam mengikuti kegiatan Paskibraka yang berada di bawah naungan sekolah. walaupun begitu Banyak sekali pengalaman yang didapat olehnya saat mengikuti berbagai kompetisi dan kegiatan. Pengalaman yang ia rasakan antara lain yaitu melatih berbicara didepan umum,  mengetahui cara menghadapi seseorang yang berkompetisi, menambah teman dari berbagai kalangan, dari mendapatkan teman Anisa juga saling bertukar cerita pengalaman dengan mereka.

              Tentunya ia juga memiliki motivasi yang ia pegang hingga saat ini yaitu “Hinaan”. WHAT!! Hinaan, kok biasa ya spliters, ternyata Anisa menjadikan hinaan dan keirian orang lain sebagai motivasi untuk berkembang. Ia ingin membuktikan bahwa ia tak seperti yang orang lain fikirkan, ia  ingin membuktikan bahwa ia dapat meraih bintang dengan caranya sendiri. Karena menurut Anisa balas dendam terbaik adalah menjadikan diri sendiri lebih baik

              Siapa sih yang tidak ingin seperti Anisa. Meskipun dia mempunyai segudang prestasi yang ia bisa dia banggakan tentu saja dia tidak pernah sombong atas pencapaiannya ia selalu berfikir diatasnya masih ada ada orang yang jauh leih baik darinya, dan dia tetap rendah hati. Bagaimana tidak merasa iri ya menjadi kebanggan keluarga dan sekolah. (Ktt)

  • SOCIAL DISTANCING SMARTWATCH

    SOCIAL DISTANCING SMARTWATCH

    SOCIAL DISTANCING SMARTWATCH

    Oleh Yuli Indah Lestari, S.Pd

    Pendidik Fisika SMA Hang Tuah 5 Sidoarjo

    Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 telah melanda dunia dan berhasil mengubah kebiasaan hidup dari seluruh umat manusia. Pada 11 Maret 2020 organisasi kesehatan dunia WHO telah menyatakan bahwa COVID-19 ini telah mencapai tingkatan pandemi, yang berarti penyakit ini telah menyebar di wilayah yang luas atau menyeluruhi dunia. Alasan mengapa virus ini bisa dengan cepat menyebar ke seluruh dunia adalah karena cara penyebarannya yang sangat efektif. Penyebaran SARS-CoV-2 dari manusia ke manusia menjadi sumber transmisi utama sehingga penyebaran menjadi lebih agresif (Susilo et al., 2020).

    Oleh karena itu, masyarakat harus melakukan perubahan pola hidup dengan tatanan dan adaptasi kebiasaan yang baru (New-normal) agar dapat hidup produktif dan terhindar dari penularan COVID-19. Ada beberapa himbauan yang harus diterapkan dalam gaya hidup New-normal ini, dari gerakan di rumah saja, penggunaan masker saat keluar, rajin mencuci tangan, dan pelaksanaan social distancing.

    Banyaknya peraturan dalam New-normal ini bisa membuat banyak orang secara tidak sengaja kembali lagi melakukan kebiasaan terdahulu yang tidak sesuai dengan ketetapan baru dalam New-normal. Karena hal inilah taruna SMA Hang Tuah 5 Sidoarjo memiliki ide untuk membuat Smartwatch yang dapat mengingatkan kita tentang beberapa ketetapan dari New-normal. Smartwatch sendiri adalah versi upgrade dari jam tangan yang mengimplementasikan banyaknya fitur dari Handphone.

    Taruna SMA Hang Tuah 5 yang begitu kreatif ini adalah Bima Pancara Haryono Putra dari kelas XII MIPA 1 dan Mochamad Zidan Sibromulis dari kelas XI MIPA 4.

    Social Distancing Smartwatch memiliki 3 fitur. Selain fitur utamanya sebagai penunjuk waktu tentunya, fitur-fitur yang ditawarkan adalah:

    1. Untuk menjaga jarak dengan orang lain

    Salah satu komponen utama pembuatan Social Distancing Smartwatch adalah Sensor Ultrasonik yang dapat memancarkan gelombang dengan frekuensi di atas 20.000 Hz. Gelombang tersebut akan terpantul jika “menabrak” benda di dekatnya dan pantulan dari gelombang akan ditangkap kembali oleh sensor. Hasil pantulan yang ditangkap oleh sensor diterjemahkan menjadi jarak antara pengguna dan benda di dekatnya. Jika jarak tersebut kurang dari 1 meter, maka buzzer dalam jam akan berbunyi dan muncul peringatan bahwa jarak tidak aman.

    • Untuk mengukur suhu tubuh pengguna jam

    Pada masa pandemic ini, menjaga suhu tubuh selalu normal adalah kewajiban bagi kita untuk terus beraktivitas. Bagaimana kita tahu suhu tubuh kita saat itu? Fitur andalan yang lain dari Social Distancing Smartwatch adalah dapat mengukur suhu tubuh penggunanya secara berkala. Melalui sensor suhu yang dipasang pada bagian bawah Smartwatch, maka pengguna bisa mengukur suhu kapanpun dan dimanapun dengan akurat tanpa harus membawa thermometer kemana-mana.

    • Pengukuran waktu pada smartwatch terintegrasi dengan handphone

    Jika penunjuk waktu pada smartwatch bermasalah, bagaimana pengaturan ulangnya? Kalian tidak perlu repot-repot mengatur ulang jika smartwatch kalian bermasalah loh. Tinggal sambungkan bluethoot handphone kalian dengan smartwatch yang kalian miliki, kemudian melalui aplikasi “Retro Watch”, smartwatch kalian akan mengatur sendiri waktunya sesuai dengan waktu yang ada pada handphone kalian. Kalian juga bisa mengatur tampilannya, mau jam analog, jam digital atau mix analog dan digital juga boleh.

    Cara menggunakan Social Distancing Smartwatch cukup mudah, kalian cukup menekan tombol menu pada bagian bawah layar, jika ditekan 1 kali, maka smartwatch akan menampilkan tampilan jam. Jika menekan tombol 2 kali, maka tampilan pada jam akan menunjukkan suhu tubuh pengguna. Jika diklik 3 kali, maka smartwatch akan mengukur jarak pengguna dengan benda di sekitarnya. Jika ada orang yang berada pada jarak kurang dari 1 meter dari pengguna smartwatch, maka smartwatch akan otomatis berbunyi dan tampilan pada layar menunjukkan bahwa jarak tidak aman. Namun jika orang terdekat berada pada jarak lebih dari 1 meter, maka tampilan pada layar akan menunjukkan tulisan jarak aman.

  • MEMBUDAYAKAN BERPIKIR KRITIS MELALUI HUBUNGAN LDR (LITERASI DALAM RUMAH)

    MEMBUDAYAKAN BERPIKIR KRITIS MELALUI HUBUNGAN LDR (LITERASI DALAM RUMAH)

    Muchammad Bachrul Alam, S.Pd

    Pendidik di SMA Hang Tuah 5 Sidoarjo

    PENDAHULUAN

                Budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sangatlah beragam. Salah satu budaya tersebut adalah banyak berbicara. Telah disepakati bersama oleh masyarakat Indonesia sendiri bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang banyak bicara dibandingkan berbuat.

    Budaya berbicara mungkin tidak akan lepas dari bangsa Indonesia karena bangsa Indonesia lebih sibuk melihat dan memahami orang lain berdasarkan sudut pandang mereka sendiri tanpa memahami apa yang sebenarnya mereka lakukan. Setidaknya untuk bisa mengurangi kebiasaan budaya berbicara tersebut, bangsa Indonesia sudah saatnya harus menggalakkan dengan serius budaya literasi, yakni budaya membaca dan menulis. Dengan budaya literasi ini, masyarakat Indonesia bisa menjadi lebih baik dan bisa memahami apa yang mereka lakukan dan apa yang harus mereka kerjakan.

    Berbeda terbalik jika permasalahan budaya membaca dan menulis dapat dikalahkan dengan kegiatan yang lain misalnya menonton televisi pada saat kegiatan literasi dikesampingkan. Herannya, tidak ada respon yang berlebihan bahkan mungkin malah tidak ada ketika media sempat menampilkan data BPS, yang menyatakan bahwa jumlah rata-rata waktu yang digunakan anak Indonesia dalam menonton televisi adalah 300 menit per hari. Jumlah ini jauh lebih besar dibanding anak-anak di Australia yang hanya 150 menit per hari dan di Amerika yang hanya 100 menit per hari, apalagi di Kanada yang hanya 60 menit per hari (Republika, 12 September 2015).

    Pemerintah Indonesia juga tampak adem ayem saja ketika UNESCO mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, pada setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Kondisi ini lebih rendah dibandingkan penduduk di negara-negara anggota ASEAN, selain Indonesia, yang membaca dua sampai tiga buku dalam setahun. Angka tersebut kian timpang saat disandingkan dengan warga Amerika Serikat yang terbiasa membaca 10—20 buku per tahun. Saat bersamaan, warga Jepang membaca 10 – 15 buku setahun (Republika, 12 September 2015).

    Data terkait minimnya kesadaran literasi di Indonesia dibuktikan dengan adanya hasil studi Program for International Student Assesment (PISA) yang diselenggarakan tiap tiga tahun sekali. Program tersebut bertujuan untuk mengukur kualitas hasil pendidikan dari berbagai negara telah dirilis pada 2018 lalu. Hasil menunjukkan kemampuan membaca anak Indonesia adalah yang terendah dari kemampuan bidang matematika dan sains. Nilai kemampuan membaca menunjukkan skor 371 (tiga ratus tujuh puluh satu), tertinggal 116 poin dari rata-rata Negara lain yaitu skor 487 (empat ratus delapan puluh tujuh). Ditinjau dari hasil skor tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan membaca seharusnya mendapat perhatian lebih. Pemerintah bersama-sama melakukan program peningkatan kemampuan membaca yang didukung oleh setiap lapisan masyarakat, (Mahbudin, 13 Juli 2020).

    Selain itu, dukungan program literasi dari pemerintah yang telah dicanangkan sejak 2016, masih sangat perlu evaluasi untuk menjadi program berkelanjutan yang lebih baik lagi. Pembentukan program tersebut adalah Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang terdiri dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Gerakan Literasi Keluarga, dan Gerakan Literasi  Masyarakat (Indeks Aktivitas Literasi Membaca, 2019).

    Mahbudin (2020) mengemukakan gagasannya terkait literasi Indonesia, yakni: 1) pemerintah telah serius dalam membangun budaya literasi Indonesia, 2) pemerintah belum maksimal mengawal berbagai regulasi terkait gerakan literasi bangsa ini, padahal pemerintah berhak menjatuhkan sanksi sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku terhadap instansi yang tidak melaksanakan program pemerintah, 3) pemerintah membutuhkan peran serta para pemangku kebijakan, pegiat literasi dan masyarakat umum untuk berkolaborasi mensukseskan program mencerdaskan kehidupan bangsa ini.

    Jika gerakan literasi tidak segera dikawal  dengan program berkesinambungan dan berkelanjutan, maka bisa dipastikan kesadaran literasi bangsa Indonesia akan semakin tertinggal dengan negara-negara lain.

    Selain faktor regulasi yang belum maksimal, faktor sarana dan prasarana yang mendukung gerakan literasi perlu adanya fasilitas hingga ke pelosok negri. Hal ini dibutuhkan peran yang utuh untuk mendukung program gerakan literasi tersebut dari seluruh lapisan masyarakat, sekolah, pegiat literasi hingga kebijakan pemerintah.

    Berkaca dengan situasi saat ini, Informasi dari beberapa media terkait pandemi Covid-19 belum kunjung usai. Hal tersebut menjadikan masyarakat seakan bosan dan jenuh dengan kondisi yang terus menerus diselimuti pandemi. Berbagai media gencar menyampaikan informasi berita selama pandemi, sudah seharusnya sebagai masyarakat wajib menyaring informasi, agar tak termakan berita hoax yang bertebaran. Kenyataannya, tak sedikit masyarakat masih menelan mentah-mentah berita yang didapat dan percaya begitu saja, banyak pula yang memilih mengabaikan berita penting saat ini.

    Hal ini disebabkan oleh kesadaran literasi dimasyarakat yang masih sangat minim, sehingga berpengaruh pada potensi pengembangan literasi anak di lingkungan masyarakat, yang mana kebiasaan tersebut merupakan hal yang tak baik jika terus berkelanjutan.

    Kesadaran literasi sangat dibutuhkan saat ini, terutama dalam menghadapi situasi yang mengancam manusia selama pandemi. Kurangnya literasi masyarakat Indonesia, menambah buruknya situasi saat ini. Hal tersebut dibuktikan dengan masyarakat yang mulai acuh tak acuh dengan keadaan sekitar, seperti halnya tidak memakai masker, jaga jarak dan rajin cuci tangan untuk mencegah terjangkitnya covid-19 selama pandemi. Fakta tersebut menjadi bukti bahwasanya masyarakat Indonesia masih minim akan kesadaran literasi, terutama literasi terhadap kondisi saat ini.

    Jadi, permasalahan yang ingin dibahas dalam artikel ini adalah bagaimana meningkatkan budaya literasi di Indonesia khususnya dalam ruang lingkup rumah denganmembudayakan berpikir kritis dengan LDR (Literasi Dalam Rumah).

    PEMBAHASAN                                                               

                Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis. Kita mengenalnya dengan melek aksara atau keberaksaraan bukan buta huruf. Namun sekarang ini literasi memiliki arti luas, sehingga keberaksaraan bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti (multi literacies). Ada bermacam-macam keberaksaraan atau literasi, misalnya literasi komputer (computer literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi      (technology literacy), literasi ekonomi (economy literacy), literasi informasi (information literacy), bahkan ada literasi moral (moral literacy). Jadi, keberaksaraan atau literasi dapat diartikan melek teknologi, melek informasi, berpikir kritis, peka terhadap lingkungan, bahkan juga peka terhadap politik.

    Seorang dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca informasi yang tepat dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahamannya terhadap isi bacaan tersebut. Kepekaan atau literasi pada seseorang tentu tidak muncul begitu saja. Tidak ada manusia yang sudah literat sejak lahir.

    Menciptakan generasi literat membutuhkan proses panjang dan sarana yang kondusif. Proses ini dimulai dari kecil dan dari lingkungan keluarga, lalu didukung atau dikembangkan di sekolah, lingkungan pergaulan, dan lingkungan pekerjaan. Budaya literasi juga sangat terkait dengan pola pembelajaran di sekolah dan ketersediaan bahan bacaan di perpustakaan. Tapi kita juga menyadari bahwa literasi tidak harus diperoleh dari bangku sekolah atau pendidikan yang tinggi. Kemampuan akademis yang tinggi tidak menjamin seseorang akan literat.

    Membahas terkait proses pendukung literasi yang dikembangkan di sekolah, kini akan berbeda dikarenakan adanya Covid-19. Pascapandemi Covid-19 terjadi di Indonesia awal Maret 2020, maka kegiatan belajar tatap muka di sekolah pun dihentikan, diganti dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Konsekuensinya, kegiatan literasi secara langsung di sekolah pun terhenti. Tidak ada lagi aktivitas membaca 15 menit sebelum pembelajaran dan aktivitas lainnya terkait literasi. Ada guru yang mencoba menghidupkan gerakan literasi secara daring/digital, tetapi kendala kepemilikan smartphone/laptop, buku/sumber bacaan, terlebih kendala kuota internet di kalangan siswa menjadikan hal tersebut berjalan kurang optimal. Jangankan untuk menjalankan aktivitas membaca buku nonteks sebagai “suplemen” dalam kegiatan dalam pembelajaran, untuk mempelajari materi pokok dalam pelajaran saja, banyak siswa yang mengalami kendala sinyal dan kuota internet.

    Di saat geliat literasi di kalangan siswa mengalami penurunan, justru dapat dikatakan bahwa  geliat gerakan literasi dominan di kalangan guru. Banyak guru yang pada akhirnya terpaksa atau dipaksa mempelajari Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) karena tuntutan pengelolaan pembelajaran secara daring. Banyak webinar yang diikuti oleh guru sebagai sarana untuk meningkatkan wawasan mereka. Dengan kata lain, di masa pandemi ini, ada tren peningkatan aktivitas literasi digital di kalangan guru.

    Guru penggerak literasi di sekolah tetap menghidupkan ruh literasi di kalangan peserta didiknya walau menghadapi keterbatasan secara jarak jauh atau LDR (Literasi dalam Rumah). Maksud literasi di sini tidak hanya identik dengan membaca buku saja, tetapi dalam konteks yang lebih luas dan dikaitkan dengan Covid-19. Para siswa bisa mengamati lingkungan sekitar rumahnya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Menuliskan jumlah kasus Covid-19 di lingkungannya (jika ada).  Mengamati dan menuliskan sikap dan respon masyarakat terhadap Covid-19, mengidentifikasi langkah-langkah yang dilakukan oleh pengurus lingkungannya dalam mencegah penularan Covid-19, menuliskan pendapatnya sebagai individu, sebagai makhluk sosial, sebagai warga negara, atau sebagai hamba Tuhan YME terkait dengan masalah tersebut. Selanjutnya para siswa bisa diminta untuk membuat puisi, gambar, poster, atau video terkait pencegahan Covid-19, dan berbagai tugas lainnya.

    Dengan demikian, kendala-kendala teknis seperti tidak adanya buku-buku bacaan untuk siswa dapat teratasi. Inilah yang saya sebut sebagai literasi kreatif di era pandemi yaitu membudayakan berpikir kritis dengan hubungan LDR (Literasi dalam Rumah). Ibarat sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui. Satu tugas yang diberikan kepada siswa bisa bersentuhan dengan beberapa jenis literasi seperti literasi baca-tulis, literasi kesehatan, literasi lingkungan, literasi numerasi, literasi finansial, literasi teknologi informasi, literasi spiritualitas, literasi seni-budaya, dan literasi kewarganegeraan. Intinya, kembali kepada kreativitas guru dalam memberikan penugasan kepada para siswa.

    Walau dalam kondisi pandemi, semangat untuk menumbuhkan gerakan literasi jangan sampai padam. Tidak perlu dilakukan Secara secara seremonial atau dinyatakan secara resmi bahwa tugas yang diberikan kepada siswa itu adalah gerakan literasi, karena khawatir dianggap menjadi beban baru bagi siswa mengingat bahwa kondisi psikologi siswa disaat pandemi harus dijaga alias jangan sampai stres.

    Kemudian secara umum tantangan dalam dunia literasi Indonesia dapat digolongkan dalam beberapa aspek sebagai berikut:

    1. Anak memiliki akses yang terbatas terhadap sumber informasi terutama buku. Di daerah terpencil, keterbatasan akses ini disebabkan oleh kondisi geografis yang menyebabkan harga buku dan pengiriman buku tidak terjangkau. Selain itu, produksi buku-buku kebanyakan terjadi di Pulau Jawa dan sekitarnya. Keterbatasan akses buku juga antara lain disebabkan oleh kemiskinan dan prioritas pemenuhan kebutuhan yang masih berfokus pada kebutuhan pokok. Hal ini yang dialami oleh banyak keluarga di Pulau Jawa dan daerah lain di seluruh Indonesia.
    2. Ketersediaan sumber-sumber informasi terutama buku-buku yang berkualitas terbatas. Tersedianya buku-buku yang berkualitas mampu mengembangkan kecerdasan bahasa, visual, kognitif anak dengan konten yang relevan dengan usia dan topik pengajaran sangat terbatas.
    3. Buku tidak digunakan dalam kegiatan interaktif yang menarik dan berkelanjutan. Hal ini berlaku untuk anak dengan semua tingkatan umur dan level kompetensi. Ketika anak sudah bisa membaca, maka dia akan dibiarkan membaca sendiri. Padahal, riset membuktikan bahwa ketika buku dibacakan nyaring (read-aloud) kepadanya, anak mampu mengembangkan imajinasi, juga respon kritis dan kreatif. Dalam level usia yang lebih tinggi, buku yang dibacakan nyaring dan digunakan untuk mengembangkan diskusi akan mengembangkan kemampuan kritis, analitis, dan sintesis.
    4. Kurangnya figur teladan “Pembaca” di rumah, sekolah, dan lingkungan.
      Memberi teladan mengenai asyiknya membaca dan menularkan virus membaca sangat strategis untuk meningkatkan minat baca anak. Karenanya, kegiatan membaca tereduksi menjadi aktivitas pembelajaran formal yang mengukur dan mengevaluasi anak dengan target tertentu.
    5. Minat Membaca Anak Perlu Dirawat. Tingginya minat anak dan remaja terhadap teknologi belum dimanfaatkan untuk membuat bacaan lebih menarik dan mudah dijangkau oleh mereka. Anak-anak yang terlahir di era teknologi informasi (digital natives) membaca dan menulis dengan cara yang berbeda dari generasi sebelum mereka.
    6. Pendidikan Literasi kecakapan utama membentuk kemampuan Berpikir Tinggi. Pembelajaran yang dilaksanakan di rumah secara daring oleh guru-guru di sekolah belum mampu mengembangkan kemampuan berpikir tinggi (high-thinking order) yang meliputi kemampuan analitis, sintesis, evaluatif, kritis, imajinatif, dan kreatif.

    Kemudian, literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Di abad 21 ini, kemampuan ini disebut sebagai pengembangan budaya literasi informasi.

    Pengembangan budaya literasi ada beberapa strategi untuk menciptakan budaya literasi yang positif di dalam rumah.

    1. Mengondisikan lingkungan fisik ramah literasi lingkungan fisik adalah hal pertama yang dilihat dan dirasakan anggota keluarga. Oleh karena itu, lingkungan fisik perlu terlihat ramah dan kondusif untuk pembelajaran. Rumah yang mendukung pengembangan budaya literasi sebaiknya memajang karya peserta didik dipajang di seluruh area rumah, termasuk ruang tamu, kamar, ruang belajar, dlsb. Selain itu, peserta didik dapat mengakses buku dan bahan bacaan lain di Sudut Baca di setiap sudut rumah yang akan memberikan kesan positif tentang komitmen anggota keluarga yang berada dalam satu ruangan terhadap pengembangan budaya literasi.
    2. Mengupayakan lingkungan sosial dan afektif sebagai model komunikasi dan interaksi yang literat lingkungan sosial dan afektif dibangun melalui model komunikasi dan interaksi seluruh komponen keluarga. Hal itu dapat dikembangkan dengan pengakuan atas capaian peserta didik setiap bulannya. Pemberian penghargaan dapat dilakukan ketika adanya pembiasaan secara rutin terkait gerakan LDR (Literasi dalam Rumah) untuk menghargai kemajuan peserta didik di semua aspek. Prestasi yang dihargai bukan hanya akademik, tetapi juga sikap dan upaya pada anak/siswa. Dengan demikian, literasi diharapkan dapat mewarnai semua perayaan penting di sepanjang tahun pelajaran. Ini bisa direalisasikan dalam bentuk festival buku, lomba poster, mendongeng, karnaval tokoh buku cerita, dan sebagainya. Peran orang tua sebagai relawan gerakan literasi dalam rumah (LDR) akan semakin memperkuat komitmen sekolah dalam pengembangan budaya literasi.
    3. Mengupayakan kondisi rumah sebagai lingkungan akademik yang literat. Lingkungan fisik, sosial, dan afektif berkaitan erat dengan lingkungan akademik. Ini dapat dilihat dari perencanaan dan pelaksanaan gerakan literasi di dalam rumah. Di rumah sebaiknya memberikan alokasi waktu yang cukup banyak untuk pembelajaran literasi. Salah satunya dengan menjalankan kegiatan membaca dan orang tua memantau  selama 15 menit sebelum pelajaran berlangsung. Untuk menunjang peningkatan pemahaman tentang program literasi, pelaksanaan, dan keterlaksanaannya.

    Membudayakan berpikir kritis melalui hubungan LDR (Literasi dalam Rumah) dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan keluarga. Kesiapan ini mencakup kesiapan kapasitas rumah (ketersediaan fasilitas, bahan bacaan, sarana, prasarana literasi), kesiapan warga rumah, dan kesiapan sistem pendukung lainnya (partisipasi publik, dukungan kelembagaan, dan perangkat kebijakan yang relevan). Berikut ini tahapan Gerakan LDR (Literasi dalam Rumah):

    1. Tahap ke-1: Pembiasaan kegiatan membaca yang menyenangkan di rumah. Pembiasaan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca dalam diri warga rumah. Penumbuhan minat baca merupakan hal fundamental bagi pengembangan kemampuan literasi peserta didik.
    2. Tahap ke-2: Pengembangan minat baca untuk meningkatkan kemampuan literasi dalam rumah. Kegiatan literasi pada tahap ini bertujuan mengembangkan kemampuan memahami bacaan dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi bacaan pengayaan.
    3. Tahap ke-3: Pelaksanaan pembelajaran berbasis literasi jarak jauh. Kegiatan literasi pada tahap pembelajaran bertujuan mengembangkan kemampuan memahami teks dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi teks buku bacaan pengayaan dan buku pelajaran. Dalam tahap ini ada tagihan yang sifatnya akademis (terkait dengan mata pelajaran). Kegiatan membaca pada tahap ini untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum 2013 yang mensyaratkan peserta didik membaca buku nonteks pelajaran yang dapat berupa buku tentang pengetahuan umum, kegemaran, minat khusus, atau teks multimodal, dan juga dapat dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu sebanyak 6 buku bagi siswa SD, 12 buku bagi siswa SMP, dan 18 buku bagi siswa SMA/SMK. Buku laporan kegiatan membaca pada tahap pembelajaran ini disediakan oleh wali kelas.

    PENUTUP                    

    Simpulan

                Permasalahan umum dalam dunia literasi di Indonesia adalah rendahnya ikatan emosional terhadap sumber informasi, salah satunya buku bacaan dan kegiatan pemanfaatan sumber informasi tersebut atau kegiatan membaca. Terkait dengan buku sebagai salah satu sumber informasi, rendahnya minat dan gairah membaca sebagian berakar dari masih kuatnya tradisi lisan dalam kehidupan sosial dan pola berpikir masyarakat Indonesia.

    Guru penggerak literasi di sekolah tetap menghidupkan ruh literasi di kalangan peserta didiknya walau menghadapi keterbatasan secara jarak jauh atau LDR (Literasi dalam Rumah) secara kreatif. Literasi kreatif di era pandemi yaitu membudayakan berpikir kritis dengan hubungan LDR (Literasi dalam Rumah). Ibarat sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui. Satu tugas yang diberikan kepada siswa bisa bersentuhan dengan beberapa jenis literasi seperti literasi baca-tulis, literasi kesehatan, literasi lingkungan, literasi numerasi, literasi finansial, literasi teknologi informasi, literasi spiritualitas, literasi seni-budaya, dan literasi kewarganegeraan. Intinya, kembali kepada kreativitas guru dalam memberikan penugasan kepada para siswa.

    Walau dalam kondisi pandemi, semangat untuk menumbuhkan gerakan literasi jangan sampai padam. Tidak perlu dilakukan Secara secara seremonial atau dinyatakan secara resmi bahwa tugas yang diberikan kepada siswa itu adalah gerakan literasi, karena khawatir dianggap menjadi beban baru bagi siswa mengingat bahwa kondisi psikologi siswa disaat pandemi harus dijaga alias jangan sampai stres.

    Membudayakan berpikir kritis dengan hubungan LDR (Literasi dalam Rumah) dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan keluarga. Kesiapan ini mencakup kesiapan kapasitas rumah (ketersediaan fasilitas, bahan bacaan, sarana, prasarana literasi), kesiapan warga rumah, dan kesiapan sistem pendukung lainnya (partisipasi publik, dukungan kelembagaan, dan perangkat kebijakan yang relevan).

    Jadi, pada dasarnya kepekaan dan daya kritis akan lingkungan sekitar lebih diutamakan sebagai jembatan menuju generasi literat, yakni generasi yang memiliki keterampilan berpikir kritis terhadap segala informasi untuk mencegah reaksi yang bersifat emosional.

    Daftar Acuan

    Mahbudin, 2020. “Tanam Budaya Literasi Sejak Dini” – Kepala Perpustakaan MTsN 1 Pandeglang. Semarang.

    Republika, 12 september 2015.

    Sumber Internet:

    Clay (2001) dan Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf). (Diakses pada tanggal 22 September 2020, pada pukul 21.12 WIB).

    https://www.ayosemarang.com/read/2020/08/25/62601/tanam-budaya-literasi-sejak-dini-selama-pandemi (Diakses pada tanggal 31 September 2020, pada pukul 11.16 WIB).

    https://www.kompasiana.com/idrisapandi/5ee64459097f36721c3d30d2/literasi-kreatif-di-masa-pandemi?page=all  (Diakses pada tanggal 3 Oktober 2020, pada pukul 18.47 WIB).

  • Pembelajaran Momentum dan Impuls

    Pembelajaran Momentum dan Impuls

    Pembelajaran Momentum dan Impuls
    Berbasis Proyek

    “Water Rocket” untuk Melatih Keterampilan Proses Sains Peserta Didik

    Oleh : Silvia Sofyanita Titahsari, S.Pd.

    Guru Fisika SMA Hang Tuah 5 Sidoarjo

    Menurut Prof. Yohanes Surya dalam bukunya Fisika Gasing (Gampang, Asyik, dan Menyenangkan), selama ini fisika dianggap pelajaran yang sulit bahkan menakutkan. Peserta didik menganggap bahwa fisika itu hanya untuk orang pintar. Padahal dalam pembelajaran fisika, peserta didik tidak hanya diajak menghafal rumus tapi juga diajak untuk berpikir logis, objektif, serta aplikasinya dalam kehidupan.

    Salah satu materi fisika yang sering dianggap sulit yaitu materi momentum dan impuls. Materi momentum dan impuls merupakan materi Fisika Kelas X Semester 2. Kompetensi dasar keterampilan pada materi ini yaitu 4.10 Menyajikan hasil pengujian penerapan hukum kekekalan momentum, misalnya bola jatuh bebas ke lantai dan roket sederhana (Permendikbud No. 37 Tahun 2018). Melalui pelatihan keterampilan (KI 4), peserta didik diharapkan akan menyenangi jika memahami konsep-konsep fisika dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Berkaitan dengan hal tersebut, Distrik (2007) mendefinisikan keterampilan proses sains sebagai cara-cara yang ditempuh orang untuk mendapat pengetahuan tentang alam ini termasuk proses diantaranya adalah melakukan perencanaan, menyusun model, mengambil kesimpulan, dan lain-lain. Upaya yang dilakukan guru yaitu menentukan pendekatan sistem pengajaran yang tepat dan sesuai dengan pokok bahasan, kemampuan peserta didik, dan tujuan yang hendak dicapai. Pengajaran yang dilakukan harus dititikberatkan pada peran peserta didik secara aktif, dan tidak boleh dikesampingkan pula peran guru sebagai fasilitator, motivator, pemacu, maupun pemberi inspirasi.

    Model pembelajaran yang relevan untuk mengatasi permasalahan tersebut diantaranya model Project Based Learning (PjBL). Model Project Based Learning (PjBL) membantu peserta didik dalam belajar:

    • pengetahuan dan keterampilan yang kokoh dan bermakna guna (meaningfull use) yang dibangun melalui tugas-tugas dan pekerjaan yang otentik;
    • memperluas pengetahuan melalui keotentikan kegiatan kurikuler yang terdukung oleh proses kegiatan belajar melakukan perencanaan (designing) atau investigasi yang open ended, dengan hasil atau jawaban yang tidak ditetapkan sebelumnya oleh prespektif tertentu; dan
    • membangun pengetahuan melalui pengalaman dunia nyata dan negosiasi kognitif antarpersonal yang berlangsung di dalam suasana kerja kolaboratif (Santi, 2011 dalam Kristianti, dkk, 2016).

    Pada materi momentum dan impuls ini, pembelajaran berbasis proyek yang dilaksanakan menugaskan peserta didik mendesain, membuat, dan mempresentasikan roket air. Proyek tersebut akan memberikan informasi dan pengetahuan peserta didik dalam pembelajaran tertentu, kemampuan peserta didik dalam mengaplikasikan pengetahuan, dan kemampuan mengomunikasikan informasi. Model project based learning adalah model pembelajaran yang terdiri dari tahap-tahap kegiatan yang diorganisasikan menjadi beberapa tahap seperti gambar 1.

    Gambar 1. Langkah-langkah Operasional
    Project Based Learning (PjBL)

    Selanjutnya, pelaksanaan model project based learning dilakukan sesuai dengan tahapan yang terdapat pada gambar 1 dengan rincian sebagai berikut:

    tahap 1   :  guru menampilkan video roket air yang sedang meluncur.

                      Dari video tersebut, diharapkan muncul pertanyaan pada diri peserta didik:

                      “mengapa roket dapat meluncur?”

                      “bagaimana cara membuat roket air dan peluncurnya?”;

    tahap 2   : secara berkelompok peserta didik diminta menyusun perencanaan proyek yaitu membuat desain roket air beserta peluncurnya;

    tahap 3   :  peserta didik diberi waktu pembuatan alat dan pelaporan selama satu bulan;

    tahap 4   :  guru melakukan monitoring terhadap hasil kerja peserta didik secara berkala setiap minggunya, serta memberikan masukan terhadap perkembangan proyek;

    tahap 5   :  uji coba hasil dilakukan setelah satu bulan, peserta didik diminta mempresentasikan terlebih dahulu, setelah itu baru menguji coba alat;

    tahap 6 :           evaluasi pengalaman oleh peserta didik. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk menyampaikan pengalaman yang diperoleh selama proses pembuaan alat dan uji coba.

    Prinsip dasar roket air sama halnya dengan prinsip kerja roket atau jet, begitu pula dengan gurita atau cumi-cumi, hewan tersebut juga menggunakan prinsip yang sama untuk menggerakkan atau mendorong tubuh mereka. Roket air secara fisika merupakan implementasi dari perubahan momentum serta Hukum III Newton tentang aksi-reaksi. Cara kerja roket air sederhana yaitu botol minuman bekas yang digunakan sebagai badan roket diisi air dengan volume tertentu kemudian udara dimasukkan dengan cara dikompresikan ke dalam botol, kemudian botol ditahan agar tidak lepas sehingga botol akan meluncur berlawanan arah dengan arah keluarnya air dan udara bertekanan. Oleh karena itu, selain roket air sebagai media untuk mengkompresikan udara, mengetahui tekanan dalam botol, menahan botol, dan meluncurkannya maka dibuat juga suatu mekanisme yang disebut launcher (mekanisme peluncur).

    Cara pembuatan roket air dan instrumen penilaian proyek yang digunakan ditunjukkan pada gambar 4 berikut ini:

    Gambar 4. Instrumen Penilaian Proyek

    Dari tugas proyek tersebut, selanjutnya diperoleh sebanyak empat jenis penilaian, yaitu presentasi alat, laporan kegiatan, video roket air, dan hasil uji coba alat. Penilaian tersebut didasarkan pada rubrik penilaian yang dibuat oleh guru. Keempat hasil penilaian tersebut selanjutnya dirata-rata sehingga diperoleh nilai akhir keterampilan proses sains. Tugas proyek ini diberikan kepada tiga kelas eksperimen yaitu kelas X MIPA 1, X MIPA 2, dan X MIPA 3.  Berikut ini merupakan tabel sebaran nilai keterampilan proses sains pada proyek roket air di kelas X SMA Hang Tuah 5 Sidoarjo.

    Tabel 1. Nilai Keterampilan Proses Sains

    Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa model Project Based Learning (PjBL) sangat sesuai diterapkan untuk melatihkan keterampilan proses sains pada peserta didik. Karena model tersebut peserta didik diajak untuk memahami sebuah konsep, bereksplorasi melalui sebuah kegiatan proyek, sehingga peserta didik aktif dalam prosesnya.